Hakeka' Abiasangeng Riesso Allepperrengnge "Lisu Kampong/Mudik".


Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Semangat pagi dan salam sejahtera buat kita semuanya.

Lebaran tahun 2022 ini baru saja dilaksanakan, itu tandanya kita telah merayakan hari kemenangan setelah sebulan lamanya berjuang melawan kebebasan napsu dan syahwat serta melatih diri secara mental untuk mendisiplinkan diri dalam beribadah baik wajib maupun sunnat.

Kali ini sengaja admin memilih tulisan dengan judul "Hakeka' Abiasangeng Riesso Allepperreng Lisu Kampong dengan tujuan agar pembaca khususnya para perantau dari suku bugis dapat merasakan bagaimana perbedaan berlebaran saat di rantau dan bagamaina saat lebarannya di kampung.

Semoga dengan tulisan ini, baik anda yang sedang dalam rantauan ataupun yang sedang mudik dapat mengambil pelajaran darinya. Apalagi penulisnya juga adalah bekas perantau dan Naskah ini dibawakan langsung oleh admin yang bertindak sebagai khatib Idul fitri 1443 H. yang diselenggarakan di Dusun Pao Jawae, Desa Palambarae, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba.

Bagi yang punya waktu untuk membaca. silahkan disimak berikut ini dan jangan lupa tinggalkan komentarnya di kolom komentar:


Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ 
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اَلْحَمْدُ

 الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ.

 اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

 .فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .

 قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ


Maasyiral Muslimin wal Muslimat jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

De' gaga ada lain paling siratang na malebbi' ripau pada-padanna ri esso marajaeiyewe, selain kalimat Alhamdulillahirabbil alamin, puja dan puji sukkuru' ripangngolo lao ri puang Allahu swt Tuhan semesta alam yang telah menganugerahkan nikmat pammase na de'gaga mullei rekeng-rekengngi siaga egana. Di antara nikmat agung itu adalah masih diberinya kita kemampuan untuk menghirup udara dunia sekaligus anugerah umuru malampe' naiya nassabari idi'maneng engkaki nawereng kesempatan untu massompa mangngolo ri Alena, serta masih berkesempatan untuk berkumpul maddeppungeng sibawa tau ricarinnaitta, tau ripujitta, tau maddeppetta, pada-padanna indo' ambetta engkae ri seddeta maneng. 

Iyamenenna iye riasengngi nikmat yang agung pammase maloppo pole ri puangnge. Terlebih pada momentum Hari Raya Idul Fitri yang menjadi perayaan kemenangan dan kebahagiaan. Sebuah hari raya di mana takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang di berbagai penjuru dunia menandai kembalinya fitrah umat Islam seperti bayi yang terlahir kembali ke dunia ini dan tanpa adanya lagi pembatasan aktivitas di rumah saja. nasaba engkaki kasi' duattaung napaddibolaki pammarentata nasaba engkana riaseng virus corona.

Maasyiral Muslimin wal Muslimat jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Narekko mabbacaki sejarah, awal mula dilaksanakannya hari raya Idul Fitri adalah pada tahun ke-2 Hijriah. Saat itu kaum Muslimin mendapatkan kemenangan besar dalam perang Badar. Perayaan kemenangan yang diraih umat Islam pada waktu itu, secara tidak langsung merayakan dua kemenangan yakni kemenangan atas telah paripurnanya menjalankan kewajiban puasa di bulan Ramadhan dan kemenangan dalam perang badar. 


Dalam tradisi bangsa Indonesia, Hari Raya Idul Fitri terkenal dengan nama Lebaran. Para ahli bahasa menyebut bahwa kata Lebaran salah satunya berasal dari bahasa Jawa yakni ‘lebar’ yang memiliki arti 'selesai' yarega "pura". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, kata Lebaran dimaknai sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan.  Sementara idi' ugi'e leppe' atau lepas.

Makna ini selaras dengan kenyataan, bahwa pada hari Lebaran, kita sudah selesai menjalankan kewajiban berpuasa purani mappaleppe seddi kewajiban mappuasa dan mewujudkannya dalam bentuk perayaan kebahagiaan sebagai wujud asukkuruketta lao ri Puang Allahu Ta'ala. Pada hari ini kita berbahagia bersama dan saling menyampaikan doa dengan berbagai bentuk redaksi seperti: ‘taqabbalallahu minnaa wa minkum’ yang artinya “barakoammengngi Allah ta'ala natarimai amala' ramalatta siuleng bujuru”. Dan juga doa “wa ja’alanallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin’ yang artinya ‘Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang beruntung atau menang.’ 

Sebuah doa yang berisi harapan mendalam agar setelah melaksanakan rangkaian ibadah di bulan Ramadhan ini kita akan benar-benar kembali suci dan beruntung mencapai kemenangan dengan predikat sebagai orang-orang yang bertakwa. Hal ini telah Allah sebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

 اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ 

Maasyiral Muslimin wal Muslimat jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Narekko diperhatikangi rilalenna atuongette, pada-padanna to panritata dalam hasil penelitian imiah diketahui ternyata taniami makkedda idi'mi bawang rupa taue engka riaseng "mappuasa" dalam kehidupan yang lain ternyata mahluk lain juga dalam waktu tertentu dan tujuan tertentu akan mengalami "puasa". 

Ayam dalam mengerami telor-telornya mappuasatopi naullei jaji tello'na maddeppe' mancaji ana' manu. Tapi puasana manu'e tettei mappuasa manu' asenna pasti dan pasti engka tello' amporo asenna.

Kepiting dan ular dalam masa tertentu mesti mappuasa topi nappa jaji massulle cangkang yarega sissi'. tapi namo pekkoga batena mapuasa, puasanya hanya mampu untuk mengubah cangkang, mengubah sisik. puasanya tidak dapat mengubah sifat dasarnya sebagai kepiting, tetap majjeppi, ular tetap berbisa, buas, dan mematikan.

Engkapa seddi kolo'-kolo' mappuasa iyanritu "ule'", atau bahasa indonesianya adalah ulat.
Iyaro ule'e mappuasai nasaba eloi berubah mancaji kalubampa/kupu-kupu/rata-rata dalam bahasa konjo. Puasa yang seperti inilah yang seharusnya menjadi rujukan, Secara fisik ulat dan kupu-kupu perubahannya sangat radikal, ule' ripammulanna mallolo' sisenna mancajiwi kalubampa de'na mallolo' tapi'na maluttu'ni/terbang. dari segi paras jelas kupu-kupu lebih indah dibanding ulat. Dari segi sifat, ulat tadi'nya adalah hama dan perusak tanaman  namun setelah menjadi kupu-kupu yang indah, taniani hama tapi'na mancajini pengisap madu dan membantu penyerbutan/pembuahan pada tanaman.

Semoga iyare puasata siuleng bujuru nawalekki puang Allahu ta'ala pada-padanna ule'e berubah mancaji kalubampa, tadinya kita masih menjadi karakter yang negatif, namun setelah malleppe' angkani mancaji peribadi yang positif, makkeguna lau ri padanna rupa tau. weddi'ttoni passiselei hallala na harangnge.

"sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sebuah kaum, tanpa kaum itu mengubah dirinya sendiri"

matemitu de diullei nrubai, tapi' sipa'e wedding moi ta'rubah.

Kembali ke Judul. 

Aga asenna seddie Kebahagiaan narekko idi'tommi rasakengngi ale-aleta, Kebahagiaan yang kita rasakan ini tentu sangat kurang lengkap jika dirayakan sendiri. Justeru seddie Kebahagiaan akan terasa lebih nikmat jika bisa dirayakan dengan berkumpul bersama orang-orang yang kita cintai. Hal inilah yang memunculkan sebuah tradisi ritual di negara kita yang sering disebut Mudik dalam bahasa Iindonesia/Lisu Kampong nakko ogi'. 

Sebuah tradisi berisikan kerinduan di tanah rantau untuk pulang melihat kembali tanah kelahiran. Sebuah tradisi luhur untuk kembali lagi berkumpul dengan keluarga, mengingat kembali masa kecil sekaligus bersimpuh sungkem dalam pelukan kedua orang tua. 

Mudik juga tidak hanya memiliki dimensi makna sekedar pulang kampung saja. Abiasangeng lisu kampong de diartikangngi rimakkedae sekedar lisu bawangimi rilalenna engka hakeka a'gurung de'naullei dirupiakan dalamnya terkandung dimensi spiritual yang nilainya tidak bisa diukur dengan materi dunia. Jarak jauh melintasi laut dan sungai, medan terjal dan jalan berliku, ditambah waktu, tenaga, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk lisu kampong, tidak bisa menghalangi rasa kangen/rindu yang teramat sangat membuncah kepada tanah kelahiran. 

Teknologi canggih seperti telepon, media sosial, maupun video call juga tidak akan bisa menggantikan kualitas pertemuan langsung dengan sanak kerabat kita di kampung halaman. Kemewahan perkotaan tak kan bisa menggantikan manisnya kenangan kesederhanaan bersama teman masa kecil yang selalu terbayang jelang lebaran. Berbagai fasilitas yang mungkin mewah dan serba lengkap di tanah rantau tidak bisa menghalangi pulang kampung menuju ibu pertiwi walau berada di tengah hutan dan pucuk gunung yang tinggi sekalipun. 

Padani kapang koeddi no ri kampotta, dusun paojawae, namo pekkoga  heba'na  allepperrengnge ri wanuanna taue menuru'na sebahagian taue, tetapi detto napada pappinedditta bangsana allepperetta koeddi no ri dusun Paojawae Bacari. Nasaba magai, Tau kicarinnaie engkai riseddeta, tau maccararinnae ri aleta engkai ri seddeta, Indotta, Ambotta, anatta, daettta, anritta, sulessuretta, keluargata, sahaba baiccutta, poko'na malleppekki massilong.   

Engka seddi kissa. mappammulai massikola merantau memenni, makkulllia merantusih, ma'jamai merantausi, eloi kawin merantausih, pura kawin engka ana'na merantausi, poncona ada sengngi merantaumenna najama. Singkat cerita, ada suatu waktu menjelang lebaran, seorang karyawan diberi tugas oleh manajer perusahaan untuk tinggal dan tidak boleh mudik. Ia diberi fasilitas; mobil, rumah dan asisten, uang THR, dan masih banyak bonus lainnya, tetapi karena bertahun-tahun sudah sering lebaran di kampung orang, orang tersebut sudah mulai rindu dengan suasana di kampung halaman. Akhirnya pada tahun berikutnya ia memutuskan untuk resigne/mangeddai pole ri jamanna nappa lisu kampong karena merasa sekalipun semua serba difasilitasi tetapi ada satu yang tidak dapat tertahankan yaitu kerinduan kepada tanah kelahiran, kerinduan pada suasana masa-masa kecil saat bersama sahabat bermain, dll. 

Demi bertahan di suasana kampung, sekarang ia sudah mendirikan Taman Pendidikan Qur'an, Majelis Ta'lim, Madrasah/Sekolah, demi satu alasan 'tettemoi ri kampongnge mabbangung. dan orang itu tidak lain adalah yang sedang bertindak sebagai khatib saat ini riolota maneng. 

Kerinduan kepada tanah kelahiran seperti ini juga pernah dirasakan oleh Nabi Muhammad saw seperti yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِمَكَّةَ : ” مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ ، وَلَوْلا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ 

Artinya: “Berkata Rasulullah saw, “Alangkah indahnya dirimu (Makkah). Engkaulah yang paling ku cintai. Seandainya saja dulu penduduk Mekah tidak mengusirku, pasti aku masih tinggal di sini” (HR al-Tirmidzi). 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ 

Maasyiral Muslimin wal Muslimat jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Jika kita renungkan lebih mendalam, hakika'na lisu kapong iyanritu lisu mangngolo mellau dampeng ri indo ambotta duae pajajiatta. Sosok paling berjasa yang telah melahirkan kita ke dunia ini, sosok yang telah menjadi pahlawan kesuksesan kehidupan kita. Janganlah sombong dengan keberhasilan dan apapun yang telah kita raih dalam kehidupan ini. Semua itu tidak akan bisa lepas dari jasa dan doa kedua orang kita. Bagaimana pun kondisi orang tua kita, mereka adalah sosok yang harus kita cintai, hormati, dan patuhi. 

Mereka adalah jimat kita yang sakral di dunia ini. Karena keridhaan dan keikhlasan orang tua akan menjadi sumber kesuksesan kehidupan kita di dunia. Sebaliknya kemarahan mereka adalah merupakan sebuah kemurkaan dan bencana dalam kehidupan kita. Rasulullah bersabda: 

رِضَى اللهِ فىِ رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ 

Artinya: "Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan kemarahan Allah tergantung kemarahan orang tua" 

Allah swt pun telah mengingatkan kita untuk senantiasa berbuat baik kepada orang tua. Jangan membentaknya, jangan pernah sekali-kali berkata kasar kepada mereka. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 23:

 وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا 

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”. 

Sehingga hadirin rahimakumullah.... 

Mudik lebaran kali ini bisa menjadi momentum tepat untuk bersimpuh kepada kedua orang tua kita atas segala khilaf dan kesalahan yang selama ini telah diperbuat kepada mereka. Mari kita tancapkan dalam hati kita untuk jangan lagi menyakiti hati dan fisik mereka. Kita perlu sadar bahwa jasa dan perjuangan mereka tidak akan bisa kita balas dan bayar lunas. Demi Allah... demi Rasulullah... sebanyak apapun yang pernah kita berikan, apa pun yang pernah kita serahkan kepada orang tua kita, tidak akan pernah setimpal dengan perjuangan dan pengorbanan mereka membesarkan kita. 

Idi anae sadarki iyamanenna kiappunnaie bahan dasarna polemaneng ri tomatoatta, aleta lagi na tomatoata punnaiki, jaji narekko engka pura pabberena nanawellau paimeng lisu, kiare bawanni, ibara'na bennengnge narekko dibaluppaki idi anae nappa jaji hajja'na taumatotta, kiabbereng bawanni aleta, ha'naki taumatoae,  Aja' kibaliki makkara-kara taumatoatta madosaki. segera datang dan kembali memohon ampun padanya narekko melokki mitai pajangna linoe lettu ri akhera. 

Sebagai panutan dan teladan bagi anak-anaknya orang tua juga perlu kebijaksanaan, narekko engkani riatoae, namaloppo manenni ana'-anatta apalagi pura manenni kawin naengka warangparang wedding ribage, sibole-bolena kipannessang memengni  demi menghindari pertikaian anatar saudara dan keluarga dan berlaku adillah, urane dua, makkunraie seddi.


“Ya Allah, ya Tuhan kami. Anugerahkanlah kasih sayang-Mu pada kedua orang tua kami. Keruniakanlah keberkahan, kesehatan, dan umur panjang kepadanya. Kuatkanlah iman dan Islam mereka serta kekuatan untuk terus membimbing kami. Maafkanlah atas segala kesalahan yang telah kami perbuat kepada mereka. Jadikanlah mereka nantinya ahli surga bersama orang-orang yang Engkau cintai.”

Ripaccappakenna katobbaeiyewe, O puang kipaturungiangngi barakka ri masyaraka'na dusun paojawae, namaseha pendudukna massappa dalle hallala, kipakkiwasselei usahana, tanettanenna, karengi generasi, ana berbakti kepada orang tua, agama dan bangsa. Aamiin.

 اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ 

Maasyiral Muslimin wal Muslimat jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Di mudik lebaran kali ini mari kita raih kedua tangannya. Peluk tubuh mereka yang dulu kekar merawat kita namun sekarang sudah mulai lemah termakan usia. Mintalah keridhaan dan keikhlasan dari mereka berdua untuk bekal hidup kita. Bagi kita yang orang tuanya sudah dipanggil Allah swt, mari kita ziarahi makam mereka. Kunjungi dan bersihkan pusaranya. Kita perlu sadari, bahwa mereka di sana menunggu panjatan doa dari kita. Mereka pasti akan tersenyum melihat kehadiran dan doa yang kita panjatkan. Dan sebaliknya, mereka pasti akan sangat bersedih ketika kita tidak mendoakannya karena hanya itulah yang mereka harapkan di alam sana. 

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, Selain kepada orang tua, mari juga saling memaafkan dosa dan kesalahan dengan orang-orang yang ada dalam kehidupan kita. Tidak ada manusia yang sempurna. Semua pasti memiliki dosa dan kesalahan kepada sesama. Sehingga lebaran menjadi salah satu momentum tepat untuk saling memaafkan. Semoga semua dosa kita kepada Allah, orang tua dan kepada sesama akan diampuni sehingga kita akan menjadi insan yang kembali suci mendapatkan kemenangan. Amin


 جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ الله لِى وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيْنَا وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. 


Khutbah II

 اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ اَلْحَمْدُ. 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيِنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدَ :

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ ا اتَّقُوا الله. قال الله تعالى: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . وَقَالَ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيَائِكَ وَرَسُلِكَ وَمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى، وَ عَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وتَابِعِى التَّابِعِيْنَ، لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيسِيَّا هَذَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .

 تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، كُلُّ عَامٍ وَاَنتُمْ بِخَيْرٍ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيِنَ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِالْعَدْلِ وَالاِحْسَانِ، وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ. وَاللهُ يَعْلَمُ ماَ تَصْنَعُوْنَ

0 Response to "Hakeka' Abiasangeng Riesso Allepperrengnge "Lisu Kampong/Mudik". "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel