Panggala Tempat Merantau Terindah

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bagaiamana kabar sahabat blogger? semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan bersemangat dalam menjalanai rutinitas kita masing-masing. Aamiin, walaupun saat ini dunia disibukkan dengan yang namanya "corona" tetapi kita sama-sama berdoa agar badai corona ini segera berlalu.Aamiin.
Ya, kali ini admin akan membagikan sebuah pengalaman pribadi dari sepasang suami isteri yang memilih pindah domisili dari Ibu kota Kabupaten Bulukumba ke Desa Taccorong Kecamatan Gantarang dimana kecamatan tersebut masih dalam  wilayah kabupaten Bulukumba. Mau tau bagaimana kisahnya?

Ini dia.....

Pada awal tahun 2016 silam, Usia pernikahan Tahmil dan Rahma telah mencapai tahun ketiga, pada saat itu, mereka sudah dikaruniai dua orang anak, Putra pertamanya diberi nama Muhammad Thoriq Gifari lahir pada hari senin tanggal 19 mei tahun 2014. dan Puteri keduanya diberi nama Nukhta Mumtazah lahir pada hari selasa tanggal 24 mei tahun 2016. Idealnya sebuah rumah tangga pada saat itu tinggal di rumah sendiri adalah sesuatu yang musti atau harus bagi pasangan suami isteri yang telah mempunyai anak, namun pada saat itu belum juga terwujud.

Rahmawati yang berprofesi sebagai Tenaga Honorer sejak tahun 2005 sampai sekarang di salah satu sekolah swasta di Panggala Desa Taccorong, meminta pada suaminya agar tinggal saja bersama di Rumah mertua sambil berusaha di Kota Bulukumba. pada saat itu, sang suamipun menuruti tawaran sang isteri.

Tahun pertama kehidupan berumah tangga sudah dijalaninya tinggal bersama mertua. Bagi Rahma mungkin biasa saja, tidak ada sesuatu yang perlu ia persiapkan khususnya mental paling cuma bagaimana menjadi isteri yang baik, lain halnya dengan Tahmil, pertama yang perlu ia persiapkan adalah mental sebab ia akan berperan sebagai Suami untuk isterinya dan juga sebagi menantu untuk mertua dan peran sebagi kakak ipar untuk adik-adik iparnya. Belum lagi saat anak petama lahir maka peranpun akan bertambah yaitu menjadi seorang ayah dari anak-anak tentunya.

Hidup menjalani banyak peran akan mengajarkan kita pada arti sebuah kehidupan dalam berumahtangga. Kesabaran dan kerja keras adalah pondasi awal yang harus dipersiapkan bagi para calon suami atau calon isteri.

Kehidupan ini dilaluinya hingga usia anak pertama mereka mencapai 5 bulan. Sampai akhirnya Tahmil pada saat itu ikut sang mertua bekerja sebagai kuli bangunan di Makassar. Pada saat itu Tahmil menerima tawaran untuk bekerja disebuah perusahaan di Kalimantan Timur dimana pada saat itu PT. SBP sedang membutuhkan karyawan sebagai supervisor lapangan untuk proyek road Tabang.

Setelah musyawarah dengan Rahma dan mertua termasuk keluarga dari pihak Tahmil, akhirnya semua memberi izin, tahmilpun menghubungi HRD PT. SBP di Kaltim untuk menyetujui tawaran tersebut. Pada saat itu pula pihak perusahaan mengirimkan tiket pesawat Makassar-Balikpapan. (kisah inspirasi di Tabang akan di terbitkan kemudian)


Bekerja di perusahaan selama kurang lebih 7 bulan, jauh dari keluarga, gaji tinggi, ternyata tidak cukup untuk memenuhi harapan Tahmil membangun rumah sekalipun hanya gubuk. Tahun 2015 Tahmil kembali ke kampung halaman dengan tidak membawa perubahan berarti untuk isteri dan keluarga.

Saat itu, harapan isteri dan mertua adalah beserta keluarga yang lain: Tahmil tinggal di bulukumba, berusaha saja yang penting halal. Kata mertua "usaha dan bekerja apa adanya asal halal yang penting kita hidup bersama sudah cukup, jangan cari yang banyaknya namun cari berkahnya" itulah pesan yang dijadikan pegangan hingga saat ini.

Bulan agustus tahun 2016. Tahmil dan Rahma memutuskan pindah ke panggala Desa Taccorong, disana ada Rumah Yayasan Al-Abrar Panggala yang sudah lama ditawarkan pihak yayasan untuk ditinggali. Disanalah Tahmil dan Rahma menjalani kehidupan yang betul-betul baru bersama dua orang putra putrinya yang masih balita.

Tinggal di Rumah Yayasan yang dipasilitasi listrik, air, berada di dalam lokasi Madrasah dan masjid. Adalah sebuah kondisi yang strategis bagi sebuah kehidupan Rumah Tangga. Mau sholat berjama'ah masjid dekat, mau sekolah, sekolah dan rumah dalam lokasi yang sama. Inilah kesan awal yang dirasakan oleh Tahmil dan Rahma pada saat itu.

Awalnya Tahmil hanya tinggal di Rumah, berperan sebagai Ayah dan juga sebagai Ibu, menjadi rutinitas setiap hari mengurus dua anak balita saat Rahmawati mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Panggala. 

Dalam keadaan seperti itu, Tahmil dan Rahma menjalaninya baik suka maupun duka, jauh dari keluarga, jauh dari tetangga karena lokasi rumah dengan tetangga dibatasi oleh lokasi sekolah sehingga untuk menjalin komunikasi dengan tetangga nanti saat waktu sholat tiba atau para orangtua datang mengantar anaknya ke sekolah. Anak-anak pulang sekolah, lewat waktu sholat mereka kemudian merasakan betapa sepinya rumah tempat tinggalnya. Belum lagi kalau malam tiba, khususnya setelah jama'ah sholat isya bubar, maka yang ada adalah gelap dan suara jangkrik, kodok dan burung hantu yang menjadi alunan musik alami ditambah lagi lolongan anjing yang memecah sunyinya malam.

Malam terasa begitu sangat lama untuk menunggu pagi, pagi begitu cepat mencapai siang, siang begitu singkat untuk menjemput malam. Itulah Panggala dalam dalam perasaan Tahmil saat itu.

Namun hari-hari dilaluinya, lama-lama semua yang tadinya baru, lambat laun Tahmil dan Rahma sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Jama'ah dan masyarakat Panggalapun menyambut dan menganggap Tahmil&Rahma sebagai keluarga.

Melihat keadaan di Sekitar Tempat tinggalnya, Tahmil selalu menjalin komunikasi dan silaturrahim dengan masyarakat, hingga suatu hari datanglah salah seorang orantua siswa yang meminta agar Tahmil segera membuka TPA di Masjid Maqamu Iberahim Panggala. Tetapi saat itu Tahmil masih menolak dengan alasan masih menunggu Masyarakat yang lain, jangan sampai cuma satu orang saja yang punya keinginan seperti apa yang diinginkan oleh Ibu Hajja Odang saat itu.

Tetapi namanya orang Tempatan keinginan ini terus disebarluaskan hingga akhirnya sampai pada tahun 2017 barulah kemudian TPA resmi didirikan dimediasi oleh H.Iberahim Ayyub sebagai pemilik Yayasan Iba Puisi. Tahmil pada saat itu ditetapkan sebagai Pendiri sekaligus Kepala Unit TPA yang diberi Nama HUDAL QUR'AN



Tahun berikutnya TPA HUDAL QUR'AN setelah berhasil menamatkan 3 orang santri pertama dari 60 santri terdaftar di awal berdirinya, Tahmil melakukan sebuah terobosan baru yaitu mengikat orang tua santri dengan membentuk sebuah organisasi yang bernama FOKMAS atau Forum Komunikasi Mama Santri sehingga Informasi dari pembina dan dari orang tua santri dapat terjalin dan bersinergi.

Pada tahun 2018, TPA HUDAL QUR'AN diberi kepercayaan oleh DPK kecamatan Gantarang untuk menjadi tuan rumah munaqasyah tingkat kecamatan Gantarang, Alhamdulillah 6 Santri dapat selesai pada saat itu.

Bersamaan dengan itupula melihat kondisi MIS Panggala dengan lahannya yang begitu luas dan bangunannya yang siap, diantara para ustadz yang hadir ada salah seorang yang membuat Tahmil  mulai berfikir jauh kedepan bahkan semangat pendidiknya terbakar oleh karena kata-kata motivasi yang ia dengar dari Bapak Ambo Upe  Subair dimana beliu adalah pendiri TPA, Pendiri Yayanan Al-Mubarak, Pendiri sekaligus Kepala di MIS Al-Mubarak Mariorennu, Sekaligus sebagai ketua LPPTKA BKPRMI kecamatan Gantarang.

Ambo Upe dengan santainya berkata 
" es saudara Disini anda tinggal urus surat izinnya saja, gedung ada, lokasi luas, yayasan ada. Kamu tinggal disini masa kamu tidak bisa. Sya saja dari nol, tapi saya. Saya tidak ada yayasan, tidak ada lahan, tidak ada bangunan. Nyatanya lihat sekarang, saya biasa. Masa seorang Tahmil yang saya kenal selama ini, pokoknya mulaimaki berbuat!" 

Saat Tahmil mendengar kata-kata dari pak Ambo Upe itu Tahmil langsung mengingat pesan dari Bapak Kepala Dusun Panggala yang ingin menjadikan salah satu gedung Yayasan Al-Abrar Panggala untuk dijadikan kandang Sapi. Bahkan beliu minta agar keinginannya itu segera disampaikan kepemilik Yayasan.

Karena sudah masuk dalam akalnya, tepat pada bulan Mei 2018, Sore hari Tahmil langsung menemui Ketua Yayasan Al-Abrar Panggala K.H. Drs. Musytari Randa,M.Pd.I di rumahnya yang beralamat di Kalumeme dekat Ponpes Babul Khaer Bulukumba, dalam pertemuan itu Tahmil menyampaikan pesan dari Pak Dusun Ukke'e tentang keinginannya untuk meminta salah satu gedung Yayasan dijadikan sebagai kandang sapi, mendengar pesan itu bapak Ketua Yayasanpun langsung meminta saya untuk segera menemui siapa di kantor Kemenag Bulukumba untuk ditanya perihal bagaimana syarat pendirian madrasah.

Karena merasa bahwa apa yang disampaikan ketua Yayasan kepada Tahmil adalah perintah, maka keesokan harinya tepat pada hari Selasa bulan Mei 2018 berangkatlah Tahmil ke kantor Kemenag Bulukumba, disana beliu bertemu dengan Kepala Seksi Penmad Bapak H. Arifin Nur,S.Ag,.M.Pd.I.
Saat diterima di ruangannya, Tahmil langsung ditanya maksud dan tujuannya. Saat itu pula Tahmil mengutarakan pesan ketua Yayasan Bahasa ia diutus untuk menanyakan bagaimana prosedur pendirian Madrasah. Tanpa basa basi pak Kasi Pendmad bukannya menjelaskan akan tetapi langsung menyerahkan satu buah buku yang berjudul petunjuk teknis pendirian madrasah, lalu berkata: " ini buku ambil, Poto copy lalui aslinya bawa kesini, kopiyannya pelajari di rumah, hari Jum'at minggu ini kita ketemu disini di kantor manfaatkan waktu sebaik mungkin, batas pengusulan madrasah baru berakhir bulan Juni 2018 semoga berhasil"

Seolah seperti candaan saja, tetapi tetap saja Tahmil berangkat ke ketua Yayasan Al-Abrar di Rukonya di belakang sentral Bulukumba, disana Tahmil jelaskan buku petunjuk Pendirian madrasah. Saat itupula beliau diberi amanah untuk menyusun proposal tersebut.

Melihat banyaknya persyaratan yang harus disiapkan, mulai dari akta pendirian yayasan, SK Kemenhumham, akta hiba dan lainya adalah hal baru bagi seorang Tahmil, akan tetapi pesan Pak AmbonUpe Subair masih membekas, sehingga Tahmil tetap berbuat. Satu demi satu persyaratan itu disiapkannya sembari tetap menjalin komunikasi dengan Bu Via salah seorang staf penmad di kantor kemenag Bulukumba, hingga akhirnya tibalah hari Jum'at sebagai batas perjanjian Tahmil dan Kepala Seksi Penmad.

Setelah semua berkas tersusun dalam sebuah proposal pendirian Madrasah Tahmilpun langsung mengantar proposal tersebut kehadapan Kasi Penmad bapak H. Arifin Nur,S.Ag.M.Pd.I. Saat bertemu, beliau langsung berkata,
 "ini saya suka kalau ada kesepakatan lalu cepat direspon atau dilaksanakan" sembari tersenyum dan kemudian beliau berkata lagi, "ok proposal ini akan saya pelajari, aktifkan saja terus HPmu, saya akan hubungi bila ada masalah, ok bos"
dengan nada canda.

Dilain sisi karena merasa bahwa MTs Al-Abrar yang akan di didirikan ini akan segera dibuka, Tahmil dan Yayasan berada dalam keraguan, apakah Mts Al-Abrar Panggala sudah bisa menerima calon siswa baru atau menunggu surat izin operasional itu terbit. Di kantor kemenag pun berbeda pendapat Bu Via sebagai Staf menyatakan "tunggu dulu" sementara Kasi Penmad bilang "buka saja pendaftaran". 

Kondisi ini memaksa seorang perintis untuk mengambil langkah yang positif, Tahmil memutuskan dengan penuh keyakinan membuka pendaftaran siswa baru dibantu calon guru yang lain sebagai unsur pendiri, Bu Nuraeni, Bu Fina dan Bu Risma. Alhamdulillah ada 7 orang calon siswa pertama yang siap menjadi siswa pertama di MTs Al-Abrar.

Saat ada informasi bahwa proposal MTs Al-Abrar perlu perbaikan dari kantor, khususnya Yayasan Al-Abrar harus segera melengkapi struktur pimpinan di Madrasah tersebut. Yayasan diberi sepekan waktu untuk menyusun dan melengkapi unsur pembina di MTs Al-Abrar.

Dalam masa menunggu penyusunan struktur pembina di Madrasah selama sepekan, ternyata Yayasan Al-Abrar Panggala belum juga menentukan siapa dalam struktur tersebut, oleh karena merasa sudah didesak oleh kemenag. Pada akhirnya Tahmil dimandat sebagai kepala MTs Al-Abrar Panggala, sekaligus diminta untuk melengkapi struktur yang diminta.

Setelah lama menunggu tepat pada tanggal 17 Agustus 2018 Tahmil dipanggil oleh kasi penmad ke Ruangannya, ternya disana Surat Izin Operasional sudah ada dan hanya boleh dikopi, aslinya tetap dikantor. 



Kini MTs Al-Abrar Panggala tersebut sudah menjalani tahun keduanya, jamlah siswanya pun baru 23 orang dari dua kelas. Gurunyapun masih 8 orang.

Akhirnya melalui artikel ini, disampaikan Tahmil dan Rahma bahwa ternyata Panggala adalah tempat terindah dalam merantau. Banyak keluarga, banyak sahabat dan banyak ruang untuk menggali potensi diri.

Tulisan ini tentu masih kacau balau, komentar dan kritikannya admin akan sambut demi perbaikan tulisan diamasa selanjutnya

0 Response to "Panggala Tempat Merantau Terindah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel